Sabtu, 05 November 2016

Tiga Tahap Mendapatkan Supermatrix ANP


ANP merupakan metode pemecahan suatu masalah yang tidak terstruktur dan adanya ketergantungan hubungan antar elemennya. Konsep ANP dikembangkan dari teori AHP yang didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara beberapa komponen, sehingga AHP merupakan bentuk khusus dalam ANP. Konsep utama dalam ANP adalah influence, sementara konsep utama dalam AHP adalah preferrence. ANP mampu menangani saling ketergantungan antar unsur-unsur dengan memperoleh bobot gabungan melalui pengembangan dari supermatriks. 

Supermatriks terdiri dari 3 tahap (www.superdecision.com) yaitu : a) Tahap supermatriks tanpa bobot (unweighted supermatrix).Merupakan supermatriks yang didirikan dari bobot yang diperoleh dari matriks perbandingan berpasangan;    b) Tahap supermatriks terbobot (weighted supermatrix). Merupakan supermatriks yang diperoleh dengan mengalikan semua elemen di dalam komponen dari unweighted supermatrix dengan bobot cluster yang sesuai sehingga setiap kolom pada weighted supermatrix memiliki jumlah 1. Jika kolom pada unweighted supermatrix sudah memiliki jumlah 1, maka tidak perlu membobot komponen tersebut pada weighted supermatrix; c) Tahap supermatriks batas (limit supermatrix). Merupakan supermatriks yang diperoleh dengan menaikkan bobot dari weighted supermatrix. Menaikkan bobot tersebut dengan cara mengalikan supermatriks itu dengan dirinya sendiri sampai beberapa kali. Ketika bobot pada setiap kolom memiliki nilai yang sama, maka limit matrix telah stabil dan proses perkalian matriks dihentikan. 

Hasil akhir perhitungan memberikan bobot prioritas dan sintesis. Prioritas merupakan bobot dari semua elemen dan komponen. Didalam prioritas terdapat bobot limiting dan bobot normalized by cluster. Bobot limiting merupakan bobot yang didapat dari limit supermatrix sedangkan bobot normalized by cluster merupakan pembagian antara bobot limiting elemen dengan jumlah bobot limiting elemen-elemen pada satu komponen. Sintesis merupakan bobot dari alternatif. Didalam sintesis terdapat bobot berupa ideals, raw dan normals. Bobot normals merupakan hasil bobot alternatif seperti terdapat pada bobot normalized by cluster prioritas. Bobot raw merupakan hasil bobot alternatif seperti terdapat pada bobot limiting prioritas atau limit matrix. Bobot ideals merupakan bobot yang diperoleh dari pembagian antara bobot normals pada setiap alternatif dengan bobot normals terbesar diantara alternatif-alternatif tersebut.

Selasa, 01 November 2016

Rater Agreement (W) dalam Metode ANP


Rater agreement adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kesesuaian (persetujuan) keseluruhan responden terhadap suatu masalah dalam satu cluster. Adapun alat yang digunakan untuk mengukur rater agreement adalah Kendall’s Coefficient of Concordance (W;0 < W≤ 1). W=1 menunjukan kesesuaian yang sempurna.

Pada faktanya, berdasarkan riset-riset yang telah dilakukan menggunakan pendekatan metode ANP, nilai di atas 0,4 menunjukkan tingkat rater agreement yang cukup tinggi. Sementara itu nilai W di bawah 0,4 menunjukkan tingkat kesepakatan responden yang rendah.

Namun demikian, nilai koefisien Kendal ini tidak menjadi prasyarat valid atau tidaknya model ANP. Berbeda dengan angka Consistency Index (CI) yang harus berada di bawah angka 10%. Nilai CI adalah syarat validnya pendekatan metode ANP/AHP. Nilai CI berkaitan dengan konsistensi jawaban para ekspert atas penentuan prioritas pilihan jawaban.

Sabtu, 03 September 2016

Analisis Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia: Aplikasi Metode Analytic Network Process


This study would try to address the problems that faced by Islamic banking institutions in Indonesia. The results showed that the problems that arise in the development of Islamic banks in Indonesia consists of four important aspects, namely: human, technical, legal/structural aspect, and market/communal aspect. Decomposition of problem as a whole gains the priorities: 1) There is not enough of Islamic banks capital yet; 2) Lack of understanding of Islamic bank practitioners; 3) Lack of government support; 4) the trust and public interest to Islamic banks tend to be low.While the priority of policy strategies that are considered able to resolve the problems of Islamic banking industry in Indonesia consists of: 1) strengthen the capital and business scale and improve the efficiency level; 2) improve the quantity and quality of human resources, and also information systems and technologies; Furthermore, 3) improve the structure of Islamic bank funds and harmonization of regulation and supervision.  Keywords: Islamic banks; analytical network process; strategy 

Abstrak. Studi ini akan mencoba menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh institusi perbankan syariah di Indonesia. Hasil penelitan menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dalam pengembangan bank syariah di Indonesia terdiri dari 4 aspek penting yaitu: SDM, teknikal, aspek legal/struktural, dan asapek pasar/komunal. Penguraian aspek masalah secara keseluruhan menghasilkan urutan prioritas: 1) Belum memadainya permodalan bank syariah; 2) Lemahnya pemahaman praktisi bank syariah; 3) Kurangnya dukungan pemerintah dan 4) Trust & minat masyarakat terhadap bank syariah cenderung rendah. Sedangkan prioritas strategi kebijakan yang dianggap mampu menyelesaikan permasalahan industri perbankan syariah di Indonesia terdiri dari: 1) memperkuat permodalan dan skala usaha serta memperbaiki tingkat efisiensi; 2) memperbaiki kuantitas dan kualitas sumber daya manusia bank syariah, berikut juga sistim informasi dan teknologi; 3) perbaikan struktur dana bank syariah dan harmonisasi pengaturan dan pengawasan.  Kata Kunci: perbankan syariah; analytic network process; strategi 
[Jurnal Esensi, UIN Syarif Hidayatullah. Vol 6 No 2, 2016]

Kamis, 04 Agustus 2016

ANP Decomposition on Islamic Capital Market Development


Dalam riset dengan pendekatan metode Analytic Network Process (ANP), tahap krusial pertama adalah proses dekomposisi. Dekomposisi adalah analisis untuk menstruktur masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana berupa model/kerangka. Tahap ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah seperti: studi literatur, wawancara mendalam dengan pakar terkait, hingga berupa Focus Group Discussion (FGD).
SMART Consulting sebagai lembaga riset ekonomi keuangan syariah saat ini sedang melakukan penelitian terkait strategi pengembangan Pasar Modal Syariah di Indonesia. Hasil kerangka ANP dibangun berdasarkan Roadmap Pengembangan Pasar Modal Syariah yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berikut adalah hasil dekomposisinya.
Pengembangan Pasar Modal Syariah di Indonesia terbagi ke dalam 5 aspek pengembangan. Pertama, regulasi. Aspek ini terdiri atas: Memperkuat kerangka hukum penerbitan dan transaksi efek syariah, peran lembaga dan profesi penunjang pasar modal serta pelaku pasar lainnya, relaksasi aturan, dan pemberian insentif.
Aspek kedua dalam pengembangan Pasar Modal Syariah di Indonesia adalah Supply dan Demand. Aspek kedua ini terdiri atas: Peningkatan jumlah dan variasi dari sisi supply produk pasar modal syariah, baik yang berasal dari Emiten maupun Perusahaan Sekuritas. Selain itu, peningkatan dari sisi demand melalui peningkatan jumlah investor, baik investor institusi maupun ritel.
Aspek ketiga adalah problem SDM dan teknologi informasi, terdiri dari: Peningkatan jumlah dan kualitas sumber daya manusia di bidang pasar modal syariah. Juga pengembangan informasi teknologi dan penyusunan sistem pengawasan pasar modal syariah berbasis risiko.
Aspek pengembangan Pasar Modal Syariah yang keempat adalah promosi dan edukasi. Aspek ini terdiri atas: promosi, sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat, kerjasama dengan perguruan tinggi terkait penyusunan kurikulum pasar modal syariah serta kerjasama promosi dengan lembaga internasional.
Yang terakhir dan tidak kalah penting adalah masalah Koordinasi. Aspek koordinasi ini dapat dilakukan dengan pemerintah (kementerian) terkait seperti Bappenas, Kementerian Perekonomian, Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN. Selain dengan pemerintah, koordinasi juga perlu dilakukan dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan khususnya regulator perbankan syariah dan industri keuangan non bank (IKNB) syariah lain.
Dari seluruh aspek (kriteria) maupun elemen masing-masing tersebut kemudian dilakukan komparasi sehingga diketahui mana yang menjadi prioritas utama dan mana strategi yang dapat dilakukan selanjutnya.

Minggu, 24 Juli 2016

ONE WEEK TRAINING: SEKOLAH METODOLOGI PENELITIAN 2016 Oleh SMART Consulting [8-12 Agustus 2016]


SEKOLAH METODOLOGI PENELITIAN ialah program terbaru dari SMART Consulting (lembaga riset yang khusus bergerak di bidang pengembangan metode riset) dalam rangka sharing knowledge dalam hal metodologi penelitian baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Metode beserta tools terapan yang akan disampaikan yaitu: Analytical Hierarchy Process (AHP) menggunakan Expert Choice, Analytical Network Process (ANP) menggunakan Super Decisions, Data Envelopment Analysis (DEA) menggunakan Banxia Frontier dan MaxDEA, Interpretive Structural Modeling (ISM) menggunakan dDSS (Decision Support System) serta Structural Equation Model (SEM) dengan Lisrel. Program ini berbentuk pelatihan dengan peserta terbatas

DEA Training Description
Data Envelopment Analysis (DEA) merupakan alat manajemen untuk mengevaluasi efisiensi suatu unit bisnis yang paling popular dewasa ini. Evaluasi efisiensi tidak hanya dapat dianalisa pada satu unit bisnis saja, namun bagi beberapa unit bisnis untuk dibandingkan satu sama lain lalu diketemukan mana yang memiliki efisiensi tertinggi, sehingga unit bisnis yang tidak efisien dapat merujuk pada unit bisnis yang efisien. Unit-unit bisnis yang akan dijadikan sebagai pengambilan keputusan dalam DEA disebut DMU (Decision Making Unit)/Unit Pengambilan Keputusan. Unit bisnis apapun dapat dianalisis kinerjanya dengan DEA seperti misalnya manufacturing units, departments of big organizations such as universities, school, bank branches, hospitals, power plants, police stations, tax offices, prisons, defense bases, a set of firms or even practicing individuals such as medical practitioners. Training ini cocok bagi siapa saja yang berkepentingan untuk mengukur efisiensi (kinerja) perusahaan, unit bisnis, organisasi agar mendapatkan gambaran bagaimana kondisi perusahaan saat ini, apakah sudah efisien atau belum. Jika belum efisien apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan agar mencapai titik efisien.

Sabtu, 23 Juli 2016

Workshop e-Learning Model using ANP [BPKP Pusdiklatwas, 21 Juli 2016]



Indonesia Islamic Bank Development using Analytic Network Process


Dalam perkembangan terakhir, industri perbankan syariah ternyata mengalami penurunan performa dibanding perbankan konvensional. Misalnya, tercermin dari non performing financing yang relatif tinggi. Ataupun pengukuran efisiensi yang lebih rendah dibanding industri perbankan konvensional. Eksistensi bank syariah di Indonesia belum didukung oleh faktor-faktor pendukung yang memungkinkan perbankan syariah untuk terus berkembang dan berjalan dengan baik.
Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat berkembangnya industri perbankan syariah di Indonesia, antara lain: belum memadainya sumber daya manusia yang terdidik dan profesional, menyangkut manajemen sumber daya manusia dan pengembangan budaya serta jiwa wirausaha (entrepreneurship) bangsa kita yang masih lemah, permodalan (dana) yang relatif kecil dan terbatas, dan adanya ambivalensi antara konsep syariah pengelolaan bank syariah dengan operasionalisasi di lapangan.
Selain problem di atas, ditambah pula dengan tingkat kepercayaan yang masih rendah dari umat Islam dan secara akademik belum terumuskan dengan sempurna untuk mengembangkan lembaga keuangan syariah dengan cara sistematis dan proporsional. Kompleksitas persoalan tersebut menimbulkan dampak terhadap kepercayaan masyarakat tentang keberadaan bank syariah di antara lembaga keuangan konvensional.
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan di atas, tahun 2016 ini SMART Consulting melakukan riset terkait Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: apa sajakah masalah-masalah yang dihadapi oleh institusi perbankan syariah di Indonesia terutama 1-2 tahun terakhir? Apa saja solusi yang tepat? Bagaimana strategi yang harus diterapkan dalam kerangka strategis jangka panjang? Dengan pendekatan metode Analytic Network Process (ANP), beberapa pertanyaan tersebut akan coba dijawab dan dicarikan solusinya.

Selasa, 12 Juli 2016

Dekomposisi ANP untuk Pengembangan Zakat Nasional


Zakat sebagai sebuah instrumen penting -bahkan sangat penting- dalam keuangan Islam, perlu dirancang dan 'dibangunkan' dari tidur panjangnya. Para stakeholder zakat nasional yang tergabung dalam Forum Zakat (FOZ) telah membuat Cetak Biru Pengembangan Zakat Indonesia hingga tahun 2025. Blueprint ini dijadikan sebagai panduan masa depan zakat di Indonesia.
SMART Consulting sebagai lembaga riset ekonomi keuangan syariah saat ini sedang melakukan penelitian terkait hal ini. Riset dengan metode Analytic Network Process (ANP) ini sudah sampai dalam tahap dekomposisi. Berikut adalah hasil dekomposisinya.

Pengembangan Zakat Nasional terbagi ke dalam 6 aspek pengembangan. Pertama, Kerangka Institusional. Aspek ini terdiri atas: Standar manajemen kinerja OPZ, Standar model kelembagaan OPZ dan Rating lembaga.
Aspek kedua dalam pengembangan zakat nasional adalah aspek Kepatuhan syariah. Aspek kedua ini terdiri atas: Standardisasi fikih zakat baik nasional maupun internasional, Pelaksanaan audit syariah untuk lembaga zakat, serta keberadaan pengawas syariah pada OPZ.
Aspek ketiga adalah Kompetensi SDM Amil, terdiri dari: Standar kompetensi amil, Sertifikasi amil, dan pembentukan ikatan profesi amilin. Diharapkan, di masa mendatang, profesionalitas SDM amil zakat setara dengan para bankir saat ini.
Aspek keempat adalah terkait Penghimpunan. Aspek ini terdiri atas: Pelayanan berbasis informasi dan teknologi, dana himpunan zakat yang tertarget, dan sinergi program antarlembaga pengelola zakat.
Aspek pengembangan zakat nasional yang kelima adalah aspek pendayagunaan. Aspek ini terdiri atas: Ketersediaan pusat data mustahik yang valid dan kredibel, Peta mustahik berbasis ashnaf zakat, serta sinergi program pendayagunaan di antara OPZ.
Yang terakhir dan tidak kalah penting adalah aspek regulasi. Aspek Regulasi terdiri atas: Perbaikan regulasi terkait zakat nasional, Terbentuknya lembaga regulator dan pengawas OPZ (sekelas BI dalam moneter), serta Review berkala terhadap UU Zakat yang ada.
Setelah tahap dekomposisi, penelitian akan berlanjut pada interview terhadap para expert yang kemudian dilakukan perhitungan dan diolah dengan software Superdecision.

Selasa, 31 Mei 2016

Mengapa Wakaf Tunai Kurang Berkembang di Indonesia?



Berbicara tentang wakaf tunai, institusi wakaf tidak hanya sebagai ritualitas keagamaan tetapi bisa menyentuh aspek kemanusiaan dengan memberdayakan potensinya untuk kesejahteraan publik semaksimal mungkin. Dengan latar belakang tersebut, SMART Consulting, lembaga yang fokus dalam riset ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, mencoba mengkaji tentang masalah ini.
Walaupun pada dasarnya semua masalah wakaf perlu diselesaikan, menyusun prioritas masalah tetap penting untuk dilakukan karena adanya keterbatasan sumberdaya, baik sumberdaya dana, maupun sumberdaya waktu yang dimiliki oleh institusi atau lembaga wakaf. Menyusun prioritas masalah juga akan membantu pengelola wakaf atau nazhir dalam menyusun rencana strategis dan menyusun prioritas agenda kerjanya.
Penelitian tahun 2016 ini merupakan pengembangan dari hasil tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2014 penelitian serupa menggunakan pendekatan metode Analytic Network Process (ANP) yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, maka penelitian ini mencoba menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process).
Hasil penelitan menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dalam pengelolaan wakaf tunai di Indonesia berdasarkan pendekatan AHP terdiri dari 4 aspek penting yaitu: kepercayaan, sumber daya manusia, sistem dan aspek syariah. Penguraian aspek masalah secara keseluruhan menghasilkan urutan prioritas: 1)masalah kepercayaan (dimana prioritas nomor satu masalah sub kriteria kepercayaan adalah lemahnya kepercayaan donator), 2) masalah syariah (yaitu tidak terpenuhinya akad wakaf, 3) masalah sumber daya manusia (yaitu penyelewengan dana wakaf), dan 4) masalah sistem (yaitu lemahnya sistem tata kelola). 

Minggu, 17 April 2016

ISAHP 2016. London UK


International Symposium on The AHP/ANP. 4-7 August 2016, London UK

The International Symposium on the Analytic Hierarchy Process (ISAHP) for Decision Making brings together researchers, academics, students and other users of AHP/ANP to share their research and experiences in decision making. The ISAHP is a biennial conference on multi-criteria decision analysis, with a particular focus the analytic hierarchy process (AHP) and its extension, the analytic network process (ANP), both developed by Thomas L. Saaty, and the combination/comparison of these with other methods.

Paper proposals presented at ISAHP cover the major studies of international research in AHP/ANP, and provide solutions for current challenges in important areas of decision-making. Of particular interest are the topics listed for the conference as well as scholarship developed by students who constitute the new generation of AHP/ANP scholars and practitioners.

Senin, 21 Maret 2016

ANALISIS PROBLEM PENGEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA: APLIKASI METODE ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP)

Abstract


Dalam perkembangan terakhir, industri perbankan syariah ternyata mengalami penurunan performa dibanding perbankan konvensional. Misalnya, tercermin dari non performaing financing yang relatif tinggi.
Studi ini akan mencoba menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh institusi perbankan syariah di Indonesia terutama 1-2 tahun terakhir, apa saja solusi yang tepat dan bagaimana strategi yang harus diterapkan dalam kerangka strategis jangka panjang.
Hasil penelitan menunjukkan bahwa permasalahan yang muncul dalam pengembangan bank syariah di Indonesia terdiri dari 4 aspek penting yaitu: SDM, teknikal, aspek legal/struktural, dan asapek pasar/komunal. Penguraian aspek masalah secara keseluruhan menghasilkan urutan prioritas: 1) Belum memadainya permodalan bank syariah; 2) Lemahnya pemahaman praktisi bank syariah; 3) Kurangnya dukungan pemerintah dan  4) Trust & minat masyarakat terhadap bank syariah cenderung rendah.
Sedangkan prioritas strategi kebijakan yang dianggap mampu menyelesaikan permasalahan industri perbankan syariah di Indonesia terdiri dari: 1) memperkuat permodalan dan skala usaha serta memperbaiki tingkat efisiensi; 2) memperbaiki kuantitas dan kualitas sumber daya manusia bank syariah, berikut juga sistim informasi dan teknologi; 3) perbaikan struktur dana bank syariah dan harmonisasi pengaturan dan pengawasan. Oleh karenanya diharapkan adanya komitmen bersama dari pembuat kebijakan dalam menunjang dan mendorong upaya pengembangan industri keuangan syariah khususnya dalam hal ini bank syariah.


Keywords: Indonesia Islamic Banks, ANP 

Rabu, 17 Februari 2016

SMART: Training, Research, Consulting, Publishing


Matriks dan Supermatriks

Metode AHP dan ANP memiliki basis perhitungan matematika matriks. Dalam matriks ini terkandung perbandingan berpasangan antarelemen maupun antarcluster. Perbedaannya adalah, jika dalam AHP hanya berupa matriks, maka ANP berupa matriks di dalam matriks, atau dikenal dengan supermatriks. 

Selasa, 09 Februari 2016

Identifikasi Masalah Dan Strategi Pengembangan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dengan Metode ANP


Penulis: Y. Budiarto, I. Kamala, Aam S. Rusydiana, Mukhibat dan I Made A. Dwiputra (2015), Memahami Realitas Sosial Keagamaan, Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama RI.

Judul: Identifikasi Masalah Dan Strategi Pengembangan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)

Kamis, 28 Januari 2016

Model ANP untuk Pengembangan Wakaf Tunai di Indonesia


Sumber: Aam S. Rusydiana & Abrista Devi (2014)

Paper title: "ANALYSIS OF CASH WAQF FUND MANAGEMENT IN INDONESIA: AN ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) METHOD APPROACH". Paper has presented at 2nd ASEAN International Conference on Islamic Finance held by UIN Sunan Kalijaga in cooperation with Islamic Research and Training Institute (IRTI) Islamic Development Bank (IDB) and IIUM Malaysia, 12-14 November 2014, Jogjakarta Indonesia.

This research is aim to identify the priority factors that being barrier to develop the practice of cash waqf in Indonesia using Analytic Network Process (ANP) method. Here is also offered some solutions for the problems identified.

Result show that the problems appeared in managing cash waqf in Indonesia divided into 4 important aspects, there are: Human Resource aspect, trust aspect, system aspect, and sharia aspect. The rank for most priority problems to less priority based on the priority result are: 1) trust problems (whereas the most priority for this sub-criteria is donators’ lack of trust), 2) sharia problems (is unfulfilled waqf covenants), 3) human resource problems (is misappropriation of waqf funds, 4) system problems (is weak of management systems). Strategies that can be built to develop the practice of cash waqf in Indonesia based on the priorities are: 1) more computerized cash waqf management, 2) the development of waqf education institutions, 3) more comprehensive fund manager quality improvement, 4) transparency and accountability in every step.


Rabu, 27 Januari 2016

Model BOCR ANP untuk Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) di Indonesia


Sumber: Aam S. Rusydiana & Abrista Devi (2013)

Paper title: “Mengurai Masalah dan Solusi Pengembangan LKMS di Indonesia: Pendekatan Metode BOCR ANP”, Jurnal Ekonomi & Bisnis Islami PSEBI Universitas Padjajaran. Volume 3 Nomor 1, juni 2013.

LKMS merupakan lembaga keuangan yang berorientasi pada upaya peningkatan kesejahteraan anggota dan masyarakat. Lahirnya lembaga keuangan mikro syariah di Indonesia merupakan salah satu jawaban melihat perkembangan perbankan syariah yang masih terpusat kepada masyarakat menengah ke atas. Faktanya, LKMS telah tumbuh menjadi alternatif pemulihan kondisi perekonomian di Indonesia, khususnya sebagai partner para pengusaha kecil dalam penyediaan modal.

Walaupun tumbuh dengan pesat, namun LKMS masih mengalami banyak kendala dalam pengembangannya. Masih banyak permasalahan yang dihadapi oleh institusi ini baik dari sisi internal maupun eksternal. Penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi penyebab serta faktor-faktor yang dominan menjadi hambatan dalam pengembangan LKMS di Indonesia, dengan pendekatan metode BOCR Analytic Network Process (ANP), termasuk solusi strategis yang diusulkan.


Berdasarkan urutan prioritas, maka alternatif aspek menunjukkan bahwa aspek technical menjadi aspek prioritas, selanjutnya diikuti oleh aspek legal/structure, pasar/komunal, dan SDM.  Penguraian solusi secara keseluruhan menghasilkan urutan prioritas 1) Pembinaan/ sosialisasi/pendampingan masyarakat menjadi prioritas utama, selanjutnya diikuti oleh 2) inovasi produk, 3) lokasi strategis, 4) kerjasama dengan LKS lainnya, dan 5) menjadikan elemen eksternal sebagai pusat informasi dan media sosialisasi.

Model ANP untuk Pengembangan Kelembagaan Baitul Maal wat Tamwiil (BMT) di Indonesia


Sumber: Aam S. Rusydiana dan Abrista Devi (2012)

Paper title: “Aplikasi Metode ANP untuk Mengurai Problem Pengembangan BMT di Indonesia”Best Paper Award at The 1st Islamic Economics & Finance Research Forum (ISEF-RF) 2012, held by IAEI and Bank Indonesia, UIN Suska Riau. 21-22 November 2012. 

Model ANP untuk Pengembangan Sukuk Korporasi di Indonesia


Sumber: Aam S. Rusydiana & Muhamad Jarkasih (2010). 

Paper title: “Mengurai Masalah Pengembangan Sukuk Korporasi Indonesia dengan Pendekatan ANP”. Paper dipresentasikan pada International Academic Conference, Shariah Economic Days (SECOND) 2010 FEUI, 3 February 2010. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 

Selasa, 26 Januari 2016

Model dan Hasil ANP terkait Problem Zakat di Indonesia


Sumber: Aam S. Rusydiana (2009).

Paper title: "Analisis Problem Perzakatan di Indonesia: Pendekatan Metode Analytic Network Process (ANP)"